Bunga Dalam Peti
Malam baru saja tenang setelah petir dan awan hitam bersitegang dengannya. Masih ada sisa kejadian berupa tetesan air hujan, dan kini aku berteduh sambil menunggu kedua temanku di sebuah supermarket.
Terpikir olehku untuk mendahului mereka karena ada sesuatu yang harus kusampaikan segera pada Shanice. Dia adalah wanita terhebat yang pernah kujumpai, dan aku beruntung telah memiliki hatinya saat ini. Aku harap bukan saat ini saja, tapi sampai nanti. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya hingga oksigen sudah tak dapat lagi merasuk ke dalam paru-paru dan cahaya tak dapat mengecup korneaku. Aku tahu ini berlebihan, tapi memang itu yang kurasakan. Perasaan memang bukan hal yang dapat sinkron dengan logika dan pendapat orang-orang. Yang kukatakan hanyalah kejujuran. Aku dapat berbohong karena kehabisan kata jika membahas Shanice.
Setelah cukup matang memikirkan cara penyampaian pesan pada Shanice, aku memutuskan untuk mendahului kedua temanku, Rio dan Roy. Aku berencana untuk pergi seorang diri menemui Shanice tanpa mereka. Kali ini aku belum beruntung, mereka berdua mengikutiku. Sambil melangkahkan kedua kaki pada permukaan jalan yang masih basah, aku terus berpikir bagaimana caranya agar aku dapat menjauh dari mereka.
Terpikir olehku untuk mendahului mereka karena ada sesuatu yang harus kusampaikan segera pada Shanice. Dia adalah wanita terhebat yang pernah kujumpai, dan aku beruntung telah memiliki hatinya saat ini. Aku harap bukan saat ini saja, tapi sampai nanti. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya hingga oksigen sudah tak dapat lagi merasuk ke dalam paru-paru dan cahaya tak dapat mengecup korneaku. Aku tahu ini berlebihan, tapi memang itu yang kurasakan. Perasaan memang bukan hal yang dapat sinkron dengan logika dan pendapat orang-orang. Yang kukatakan hanyalah kejujuran. Aku dapat berbohong karena kehabisan kata jika membahas Shanice.
Setelah cukup matang memikirkan cara penyampaian pesan pada Shanice, aku memutuskan untuk mendahului kedua temanku, Rio dan Roy. Aku berencana untuk pergi seorang diri menemui Shanice tanpa mereka. Kali ini aku belum beruntung, mereka berdua mengikutiku. Sambil melangkahkan kedua kaki pada permukaan jalan yang masih basah, aku terus berpikir bagaimana caranya agar aku dapat menjauh dari mereka.
“Saya duluan ya, ada urusan penting.”
“Memang ada apa van?”tanya Roy.
“Emm, ke arah…Ke arah barat dekat café.”
“Kebetulan banget, kita juga mau kesana, laper hehehe…” ujar Rio.
“Emm… Oke.” Jawabku dengan tak bersemangat. Rasa kecewa tak dapat kusembunyikan, rencanaku pasti tak akan berjalan mulus.
Selimut cahaya disepanjang jalan menerangiku, langit tak berhias bulan dan bintang, semuanya tertutup awan, persis suasana hatiku.
“Drrt… Drrt… Drrt…” telepon genggamku bergetar. Ada pesan dari Shanice, ternyata dia sedang berada di rumah.
Keberuntungan belum berada di tanganku, itu sudah mutlak. Awan mulai meneteskan air hujan, dan meniup udara dingin yang menusuk tubuh hingga terasa sampai ke tulang. Aku memberi tahu Shanice agar menemuiku di depan rumahnya. Aku bersembunyi disebuah gang kecil dekat rumahnya. Walaupun hari ini bukanlah keberentungan bagiku, setidaknya masih ada kejutan untuknya hari ini.
Shanice melangkah dari pintu rumahnya dengan mengenggam payung berwarna ungu dengan motif pita putih. Dia tampak sangat cantik. Aku mengikuti Shanice tepat dibelakangnya, namun ia tak menyadari hal itu.
Wajah oriental dengan kulit berwarna kuning langsat, senyumnya terlihat manis dan tulus, namun terkadang menyimpan banyak rahasia dan masalh yang tak akan ia ceritakan padaku, tapi tak apa, ia berhak memiliki rahasia. Rambutnya melambai lembut seakan mengajajakku untuk menyentuhnya, seperti ombak laut yang tenang di tepi pantai dengan deraian halus.
Dia berhenti dan menyalakan telepon genggamnya, waktu yang tepat untuk mengejutkannya, dan benar saja, ia sangat terkejut.
“Mau telepon siapa?” ucapku.
“Revan! Ngagetin tau gak? Hampir aja jantungku copot!”
“Maaf, jangan cemberut gitu dong.”
“Iya deh dimaafin kali ini aja, hehehe… Ada apa? Gak biasanya kamu minta ketemu malem gini?
“Saya punya sesuatu untuk kamu. Kamu inget gak, 2 hari yang lalu, saya pernah bilang lagi bongkar mainan waktu kecil?”
“Ita, masih inget kok. Kenapa?”
“Saya nemu tempelan kulkas ini, kamu pilih satu dan ambil, yang satunya kamu kasih ke saya.” Ujarku sambil menyodorkan dua hiasan lemari emas. Satu hiasan lemari es berbentuk pengantin pria, satu hiasan lemari es berbentuk pengantin wanita yang memegang setangkai bunga mawar. Lalu Shanice memberikan hiasan lemari es berbentuk pengantin wanita padaku.
“Kenapa kamu milih bentuk pengantin pria?” tanyaku heran.
“Karena hiasan lemari es yang bentuknya pengantin pria, bakal jadi alat untuk pengingat supaya aku selalu inget kamu.” Jawabnya tulus.
“Emm, oke, makasih banyak. Sekarang mau kemana? Ke tempat makan?”
“Aku gak laper, jalan aja yuk.”
“Oke, kita jalan.”
Aku tak peduli kedua temanku berbisik tentang apa ketika aku berbicara dengan Shanice. Dan akhirnya mereka mengerti agar memberi ruang waktu untuk aku dan Shanice, waktu untuk kami berdua.
“Revan, kita ke kafe duluan ya, kamu nyusul aja nanti.” Ujar Roy.
“Oke, nanti saya nyusul.”
“Sip, duluan ya Revan. Shanice.” Ucap Rio.
“Iya.” Jawabku dan Shanice bersamaan.
Sesaat, suasana malam menjadi kaku dan beku, lalu aku mulai membuka mulut untuk memcah keheningan.
“Maaf ya, sebenarnya ini gak sesuai rencana saya”. Ucapku.
“Iya gak apa, lagian aku udah senang kok udah bisa bareng kamu, dan dapat hadiah pula, hehehe…”
“Kok seneng banget, padahal Cuma hadiah sekecil itu? Gak berharga juga, hehehe….”
“Bunga, hadiah, dan apapun yang berharga itu bisa didapat dengan mudah, tinggal beli aja gampang, tapi hal yang kamu kasih itu gak bisa diukur dengan materi.”
“Makasih udah mau terima barang dari saya.”
“Sama-sama.”
“Pulang sekarang yuk, kasian kamu nanti tidurnya kemaleman hehehe…”
Aku dan Shanice melangkah bersama membuat malam menjadi hangat. Aku yakin jika di langit ada bulan menampakan diri, ia akan tersenyum melihat kami berbagi kebahagiaan dan memadu kasih.
Shanice mulai melangkah mendekati rumahnya. Saat melihatnya kembali masuk ke rumah, aku merasa diriku sendiri lagi menikmati dinginnya malam ini. Aku bahagia dalam relung diam dan waktu yang terus melaju, sambil memperhatikan pujaan hati kembali ke zona amannya. Aku terdiam sejenak, merasakan sisa aroma tubuhnya dan atmosfer yang diciptakanna untukku. Asaku mulai beranjak, bergerak, dan tersenyum dengan memendam rasa bahagia yang tak terucap dalam kata. Hanya kusimpan rapih dalam peti mungil dan kubiarkan tumbuh menjadu bunga yang indah didalamnya.
Lulu Kristiana
0 komentar: