Seorang Anak Penderita AIDS yang Bertahan Hidup Sendiri dan Hanya Ditemani Seekor Anjing
Ah Long merupakan seorang anak yang tinggal di sebuah desa Niuchepin di bawah kaki gunung Malu, Kota Liuzhou, propinsi Guangxu, Tiongkok. Ah Long tinggal disebuah gubuk reyot yang hanya memiliki satu kamar. Di gubuk tersebut tidak ada barang-barang yang layak untuk ia gunakan, hanya ada sebuah kompor yang terbuat dari tumpukan bata, satu buah tempat tidur , kursi serta meja tua. Selain itu di gubuk yang ia tempati juga tidak ada toilet yang layak untuk digunakan, hanya ada kaleng bekas yang biasa ia gunakan untuk menggantikan toilet.
Ibu Ah Long meninggal 6 tahun yang lalu ketika dirinya dilahirkan, sedangkan ayahnya meninggal ketika ia berusia 4 tahun. Setelah ke dua orangtuanya meninggal Ah Long hanya tinggal sendirian di gubuk tersebut. Selain itu, Ah Long juga harus merawat dirinya sendiri. Ah Long memiliki seorang nenek. Namun, neneknya tidak mau tinggal bersamanya, neneknya tersebut membiarkan cucunya tinggal sebatang kara . Dan itu bukanlah hal yang pantas untuk anak seusia dirinya, karena pada umumnya anak seusianya masih harus membutuhkan bimbingan dari keluarga dan orang-orang terdekat dengannya. Neneknya hanya sesekali datang untuk menemui Ah Long.
Selain neneknya yang tidak mau tinggal bersamanya, ia juga dikucilkan oleh seluruh masyarakat di desanya. Ah Long dikucilkan karena ia menderita penyakit AIDS. Penyakit yang dideritanya tersebut diturunkan dari ke dua orangtuanya. Penyakit tersebut jugalah yang merenggut nyawa ke dua orangtuanya.
Selain dikucilkan, pada saat itu pihak sekolahnya sudah tidak mau lagi menerima dirinya. Namun, Ah Long tetap semangat, ia tetap belajar di rumah dengan menggunakan buku-buku bekas yang ia temui, semangat belajar Ah Long sangatlah tinggi. Departemen kesejahteraan yang mengetahui kehidupan Ah Long tidak mau mengurus dirinya. Ah long hanya mendapatkan tunjangan sebesar 70 yuan atau sekitar Rp 90 ribu perbulan dari biro sipil setempat, dan tentunya uang sebesar itu tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-harinya. Jangankan untuk kebutuhan sehari-hari untuk makanpun tentunya tidak mencukupi. Untuk itu demi melanjutkan hidupnya Ah Long harus menanam sayuran sendiri untuk ia makan. Terkadang jika sayuran yang ia tanam belum bisa dimakan ia mencari daun-daunan yang bisa ia makan.
Selain harus mencari makan sendiri, Ah Long juga harus memikirkan bagaimana cara memasak sayuran dan daun-daunan yang ia dapat untuk dijadikan makanan. Karena pada saat itu ia hanya memiliki sebuah kompor yang terbuat dari batu bata , Ah Long terpaksa harus mencari kayu bakar sendiri ke hutan. Jarak rumah ke hutan tidaklah dekat, namun ia tetap berusaha dan tidak pantang menyerah. Ia tetap pergi ke hutan meskipun kita ketahui hutan bukanlah tempat yang aman untuk anak seusianya.
Ah Long tidak pernah mengerti sama sekali mengapa dirinya dikucilkan. Dirinya juga tidak mengerti apa itu AIDS yang menjadi alasan dirinya dikucilkan. Namun meskipun ia dikucilkan tetapi ia tidak pernah menyerah, ia tetap bertahan hidup. Kehidupan yang hanya ia tahu yaitu bertahan di gubuk kecilnya. Hal tersebut tidak pernah membuat surut semangat hidupnya.
Meskipun dirinya dikucilkan oleh nenek dan masyarakat sekitar tetapi Ah Long tidak pernah merasa kesepian. Setiap harinya Ah Long ditemani oleh sahabatnya. Sahabatnya tersebut bukanlah seorang manusia seperti dirinya, sahabatnya hanyalah seekor anjing yang ia beri nama Lao Hei. Setiap hari Ah Long hanya hidup bersama anjingnya tersebut mulai dari bangun tidur sampai tertidur kembali. Ketika semua temannya menjauhi dirinya, namun Lao Hei tetap setia menemaninya.
Ketika semua teman-temannya bermain dengan teman sebayanya serta mainan-mainan yang dibelikan oleh orang tua masing-masing ,namun Ah Long tidak pernah merasa iri ataupun berkecil hati. Ia tetap bisa bermain seperti teman-temannya meskipun hanya dengan seekor anjing dan mainan seadanya. Namun, meskipun begitu dirinya tetap merasa bahagia. Ah Long tidak pernah bisa terlepas dari anjingnya tersebut. Kemanapun Ah Long pergi anjingnya selalu mengikutinya.

0 komentar: