Sinopsis Filosofi Kopi
Cerita Filosofi kopi diawali dari Ben (sebagai tokoh utama), sebagai peracik kopi ia mencari cita rasa kopi yang sempurna. Bersama Jody temanya ia berusaha meramu kopi yang mana kopi bukanlah sekedar minuman tapi kopi akan memiliki arti yang dalam. Dia berkeliling dunia demi mendapatkan kopi-kopi terbaik dari seluruh negeri serta berkonsultasi dengan para ahli peracik kopi. Ben termasuk salah satu peramu kopi handal. Dia membuka kedai kopi dengan nama Kedai Koffie. Tidak sampai di sini keinginan ben dia terus menciptakan menu-menu kopi yang menarik dengan merenungkan setiap makana dari kopi itu. Ben menarik arti, membuat analogi, hingga terciptalah satu filosofi untuk setiap jenis ramuan kopi. Baginya, setiap kopi punya karakter masing-masing. Mulai dari cafe latte, cappucino, hingga kopi tubruk. Lalu dia mengganti nama kedainya menjadi Filosofi Kopi yang memiliki slogannya “Temukan Diri Anda di Sini”, karena semua racikannya mempunyai arti arti.
Suatu hari ada seorang pengusaha kaya mencari kopi yang punya arti kesuksesan dimana kesuksesan merupakan wujud kesempurnaan hidup. Berhubung kopi tersebut tidak ada, maka lelaki itu menantang Ben untuk membuatnya, dengan bayaran 50 juta, apabila Ben berhasil menemukan racikan sesuai dengan arti tersebut. Berminggu-minggu Ben melakukan uji coba. Kedainya berubah menjadi laboratorium. Ben berhasil menemukan racikannya. Kopi tersebut berhasil memenangkan taruhannya. Sang pengusaha terkagum-kagum sembari memberikan cek senilai 50 juta. Kopi tersebut dinamakan Ben's Perfecto; sukses adalah wujud kesempurnaan hidup. Sejak Ben's Perfecto hadir kedai kopi menjadi sangat ramai dan keuntungan berlipat ganda.
Hingga suatu saat datanglah seorang yang mencicipi Ben's Perfecto dan pengunjung baru itu merasa masih ada kopi yang lebih enak dari pada Ben's Perfecto. Untuk membuktikan hal itu akhirnya ben pergi ke puncak merapi dan disana ia menemukan sebuah warung kopi sederhana dengan nama kopi "Tiwus" . Ketika ben menikmati kopi tersebut memiliki cita rasa yang lebih nikmat dari kopi buatanya selama ini. Ben sadar dengan apa yang selama ini dia lakukan ternyata tidaklah membangakan dimana semakin kita mengejar kesempurnaan justru ketidaksempurnaan yang kita dapat. Akhirnya ben menyerahkan cek 50 juta yang dia dapat kepada penjual kopi di warung itu, berhubung penjual kopi seorang orang desa ketika diberi cek ia hanya menyimpanya di bawah bantal saja karena diangapnya bukan uang tapi hanya sebuah kertas.
0 komentar: