Sinopsis novel 23 episentrum
23 Episentrum merupakan sekuel dari novel sebelumnya, yaitu 9 Matahari, yang menceritakan tentang perjalanan hidup Matari Anas yang berusaha memperjuangkan mimpinya untuk mencicipi bangku kuliah. Berbekal keberanian dan tekad yang kuat untuk merubah nasib diri dan keluarganya, Matari harus rela banting tulang dan berhutang sana-sini untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya di Bandung. Hingga akhirnya, ia berhasil meraih gelar sarjana seperti yang ia impikan selama ini. Dengan diraihnya gelar sarjana, bukan berarti ia terbebas dari segala tuntutan hidup. Kini, masalah yang ia hadapi adalah bekerja sekeras mungkin untuk melunasi hutangnya yang berjumlah puluhan juta rupiah.
Matari Anas, seorang Sarjana Komunikasi Universitas Panaitan, Bandung, yang merasa terlambat memulai kariernya karena ia baru saja lulus di saat teman-temannya sudah menjadi kutu loncat dalam bekerja. Tari, begitu nama panggilannya, memiliki impian untuk menjadi news anchor. Namun, ia harus menunda impiannya tersebutkarena ia diterima bekerja di kantor berita bernama TvB sebagai seorang reporter, bukan news anchor. Dan, TvB adalah tempat Matari melanjutkan impian hidupnya dengan tujuan utama: melunasi utang kuliahnya, 55 juta! Mampukah Tari melunasi utangnya sekaligus mencapai impiannya sebagai news anchor?
Awan Angkasa, seorang Sarjana Matematika yang merasa salah memilih pekerjaannya yaitu sebagai Treasury Financedi Bank Madani. Bagi Awan, pekerjaan yang dilakoninya saat ini karena ingin menggugurkan kewajibannya sebagai seorang lulusan perguruan tinggi ternama yang harus cepat bekerja dan Awan tak mampu mengubah stigma dari ibunya bahwa bekerja itu haruslah di kantor. Mampukah Awan merubah stigma ibunya dan memilih jalan hidup yang telah ia impikan sebagai penulis naskah film?
Prama Putra Sastrosubroto, 27 tahun, seorang Sarjana Teknik Perminyakan yang lulus tepat waktu dan langsung dilamar oleh perusahaan minyak Prancis, T&T, sebagai Reservoir Engineering, dan berstatus sebagai International Mobile Employee. Status yang membuatnya harus siap berkelana ke berbagai belahan benua. Namun, semua pencapaian itu tidak serta merta membuatnya bahagia. Prama merasa refleksi kariernya bukan pada uang, namun pada ketenangan serta kebahagiaan hati. Mampukah Prama menemukan kebahagiaan hatinya yang selama ini ia cari?
Seluruh kisah mereka akan terangkai dalam sebuah perjalanan mata, hari, dan hati. Mereka akan jadi saksi bagaimana impian mereka terwujud dengan jalannya masing-masing. Saksi dari sebuah perjalanan hidup yang penuh dilema dan pertanyaan hidup yang terus bermunculan. Karena intinya, setiap orang berhak mengukir perjuangannya sendiri dan bebas memperjuangkan apa yang diyakininya.
0 komentar: