Sebuah Tanya
INDRI NOVIANTI
Narkoba! Kata itu seakan masih terngiang dibenakku . Kata yang masih
mengingatkanku pada penyesalan. Masa dimana saat itu aku memang bodoh. Mengapa
saat itu aku ingin mencobanya ? Mengapa saat itu aku terjebak pada hitamnya
dunia? Sebuah tanya dipikiranku . Sekilas aku ingin menceritakan kehidupanku .
***
Aku putra sulung dari
dua bersaudara. Adikku sangat berbeda denganku. Kami mempunyai kepribadian yang tidak sama. Adikku lebih
senang belajar, membaca, menulis. Sedangkan aku lebih senang main keluyuran
yang gak jelas dan malas belajar. Adikku lebih diperhatikan oleh ayah dan
ibuku. Sedangkan perhatian buatku justru kebalikannya. Ibu dan ayahku sering
membedakan perlakuan untuk kami berdua. Mungkin karena adikku yang beberapa
kali jadi juara di kelasnya. Itulah yang membuatku iri dan tak suka padanya .
Ibu dan ayahku seakan-akan menganggapku hanyalah anak tiri yang tak berprestasi.
Apakah ayah dan ibuku malu punya anak sepertiku? karena aku sering menbuat onar
dan bolos sekolah yang mengharuskan ibu dan ayah di panggil ke sekolah. Iri
rasanya ketika ayah dan ibu di panggil
ke sekolah adikku hanya untuk melihat piala sebagai simbol penghargaan untuk adik
yang telah memenangkan beberapa
kejuaraan .
Semenjak itu , aku
jarang menghabiskan waktu di rumah . Bahkan tak jarang pulang hampir larut
malam. Kubuka pintu gerbang. Kubuka pintu rumah karena aku mempunyai kunci
cadangan . Tiba tiba ayah sudah duduk manis di sofa ruang tamu.
“Dari mana kamu!“ nada
perkataan ayah tegas
“ Biasa lah anak muda“
Jawabku cuek
“Kamu tuh yah anak tak
tau diri! Sudah cape ayah mendidikmu! Harus bagaimana lagi supaya kamu berubah!
Lihat adik kamu! Kakak macam apa kamu!“ Kata ayah membentak
“ Udahlah aku sama dia beda. Aku bukan dia. Aku tidak berprestasi dan
sepintar dia .Aku hanya anak yang dipandang sebelah mata sama ayah dan ibu.“ Kataku sambil bergegas menuju kamar
Semenjak kejadian itu,
semakin malas rasanya pulang ke rumah karena suasana rumah yang membosankan dan
perkataan ayah yang masih belum bisa aku lupakan. Akhirnya aku lebih banyak
menghabiskan waktu bersama teman-teman. Bahkan tak jarang aku ceritakan masalah
keluargaku . Pernah suatu waktu, aku melihat ayah dan ibu bersama adik sedang
jalan-jalan . Mereka seperti keluarga bahagia tanpa kehadiranku. Apakah ayah
dan ibu tidak khawatir karena aku berhari -hari tidak pulang? atau ayah dan ibu
sudah tidak peduli ? Pikirku dalam hati.
“
Sudahlah jangan bersedih“ kata temanku
“
Apaan sih?” jawabku dengan nada sensitif
“ Tau kok kamu liyat keluargamu tadi kan. Sudahlah jangan dipikirkan. Aku punya sesuatu buatmu“ kata
teman ku sambil menawarkan sesuatu padaku
“Apaan
ini?“ kataku heran
Sesuatu itu berbentuk
obat. Aku mencoba obat itu dan tiba-tiba merasakan halusinasi setelah memakan obat tersebut. Hari demi hari aku
lewati dan nampaknya ketagihan terus-menerus mengomsumsi obat itu. Sampai pada masalah ketika aku tak punya uang untuk membeli obat itu
karena obat itu terbilang mahal . Tapi rasa
kecanduan itu terus menggodaku untuk
mendapatkannya. Hanya terfokus bagaimanapun caranya aku harus
mendapatkan obat itu. Hilang akal rasanya ketika hanya berfikir pendek dan menghalalkan segala cara untuk bisa
mendapatkan obatnya. Aku pernah mencuri uang ayah untuk membeli obat itu. Aku mencuri lagi untuk membeli lagi obatnya. Namun untuk mencuri
yang ketiga kalinya rencanaku tak
berjalan dengan mulus karena ketahuan oleh ayah .
“ Jadi selama ini
kamu yang selalu mencuri. Untuk apa kamu mencuri!“ kata ayah sambil
menamparku tanpa ragu
“ Saya mengomsumsi narkoba “ Kataku
tegas
“ Apa ? Dasar anak
tak tau di untung “ sambil menampar yang kedua kali tanpa ragu
Suara tangis ibu seakan prihatin denganku. Kondisi pada malam
itu sangat kacau . Aku di kurung oleh ayah. Ayah sangat benci
padaku .
Hasilnya kurungan selama berhari-hari dengan rasa
kecanduan yang aku alami. Sesekali adikku melihat keadaanku di kamar . Adikku
sering membawakan makanan dan minuman untukku tanpa sepengetahuan ayah. Justru Ibu yang sering memerhatikanku akhir akhir ini
.
“Mengapa baru
sekarang ibu perhatian padaku? Mengapa disaat keadaan
seperti ini ibu memerhatikanku. Aku ingin diperhatikan seperti adikku walaupun
aku tidak berprestasi “. Pikirku dalam hati
Akhirnya ibu
menyarankan kepada ayah supaya aku masuk ke tempat rehabilitas narkoba. Ayah menyetujuinya. Hari-hari aku lewati
dengan rasa semangat ingin sembuh dan terbebas dari narkoba. Semangat dari adikku
dan dukungan dari ayah dan
Ibu membuatku bisa bertahan .
SATU TAHUN KEMUDIAN
Kini aku sudah
terbebas kecanduan dari barang haram tersebut setelah melewati
beberapa pengobatan . Aku menyesal mengomsumsi barang haram tersebut dan tak ingin kembali
lagi seperti dulu . Kini hidupku berubah. Aku mendapat
perhatian dari ayah dan ibuku . Aku tak lagi iri kepada adikku. Kebihan adikku adalah dalam bidang prestasi lalu adalah tetap semangat untuk melawan kecanduan NARKOBA.
Aku kini lebih
semangat belajar. Kini aku sudah bekerja
di tempat rehabilitas narkoba . Aku tak ingin ada seseorang sepertiku yang terus tenggelam dalam hitamnya
kehidupan dan tetap mengomsumsi narkoba tanpa ada efek jera pada dirinya. Aku tak ingin masa laluku yang kelam dialami oleh orang lain . Masih
terbenak sebuah tanya dalam benakku. Hanya
penyesalan yang bisa menjawabnya . Hidup
di dunia itu hanya sekali kawan. Bagaimanapun sebagai anak yang berbakti kita
harus membahagiakan orang tua kita sendiri.
INGATLAH MASA DEPAN CERAH TANPA NARKOBA!
0 komentar: