Jumat, 14 Agustus 2015

Pemandangan Alam Tersembunyi, Gua Pawon dan Stone Garden, Padalarang

Dapat dikatakan sebuah kebetulan untuk menghampiri tempat ini…

Hal itu karena waktu perencanaan yang relatif singkat dan muncul sebuah pemikiran untuk mengunjungi daerah Bandung bagian barat. Dua tempat yang merupakan wisata Bandung daerah barat adalah gua pawon dan stone garden (taman batu)Kedua tempat itu relatif tidak terlalu jauh karena masih dalam satu area perbukitan. Bahkan, gua pawon dan taman batu dapat dianggap berada pada bukit yang sama. Gua pawon berada di bagian bawah bukit, sedangkan taman batu berada di puncak bukit.

Gua pawon merupakan sebuah situs purbakala karena ditemukannya kerangka manusia, sedangkan taman batu berisi banyak batu-batu dan diantaranya seperti batu yang terstruktur. Menurut saya, pemandangan yang diberikan oleh taman batu merupakan salah satu pemandangan terbaik yang bisa didapat di sekitar Bandung, bahkan melebihi tebing keraton.

Saya bahkan merasa heran kenapa daerah ini kalah nge-hits dibandingkan dengan tebing keraton padahal pemandangannya jauh lebih wah dan jauh lebih indah.

Dalam perjalanan kali ini, saya dan beberapa kawan menggunakan kereta api sebagai moda transportasi. Perjalanan dimulai dari stasiun Bandung sekitar pukul 10 dengan menggunakan kereta api ekonomi Bandung Raya seharga 1500 rupiah per orang.

C360_2015-01-11-09-34-09-474

Tiket kereta api

Jadwal kereta api bisa dilihat disini.

Kurang dari satu jam kemudian, kami sampai di stasiun Padalarang. Kami melanjutkan perjalan menggunakan angkot jurusan Rajamandala dari stasiun Padalarang. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkot berwarna kuning Oh ya, disini ada dua angkot berwarna kuning yang satu jurusan Cikalong dan yang lainnya, Rajamandala, alangkah baiknya bertanya dulu ke supirnya, jangan langsung naik, sekalian bilang juga ke supirnya mau turun di gua pawon. Harga angkot hingga gapura gua pawon 5000 rupiah. Gapura itu tepat berada di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Setelah terlihat gapura tersebut, kami turun angkot dan menyebrang jalan. Di sebelah gapura tersebut, terdapat pos ojek yang menawarkan jasanya, tetapi kami memutuskan untuk berjalan kaki. Dari pos ojek tersebut, jalan menuju gua pawon tidak sulit, cukup ikuti jalan yang sudah dibeton dan mengikuti papan pemberitahuan yang ada.

C360_2015-01-11-11-17-51-897

Pertigaan menuju gua pawon (ambil arah kanan)

C360_2015-01-11-11-28-16-134

Gerbang depan gua pawon

Sampai di gerbang depan, kami harus membayar tiket masuk sebesar 5500 rupiah per orang.

C360_2015-01-11-11-31-13-586

Harga tiket masuk

Sebelum masuk ke dalam gua pawon, kami memutuskan untuk shalat zuhur terlebih dahulu di mesjid kecil yang ada di halaman tempat wisata gua pawon. Untuk sebuah tempat wisata, wisata gua pawon memiliki fasilitas yang relatif lengkap, dari tempat parkir, mesjid, bale riung, hingga warung makanan. Kami juga makan siang terlebih dahulu di bale riung sebelum masuk gua pawon.

Tepat sebelum masuk ke bibir gua pawon, terdapat monyet-monyet yang menunggu uluran makanan dari pengunjung. Pengunjung perlu hati-hati dengan hal ini karena terkadang monyet tersebut mendekati dan mengambil makanan dari tangan penunjung secara paksa, terutama makanan dalam kresek.

monyet

Monyet

C360_2015-01-11-13-30-41-869

Plang gua pawon

Gua pawon

C360_2015-01-11-12-53-27-245

Gua pawon

Ukuran bibir gua pawon relatif besar dan di dalam gua tersebut, terdiri dari beberapa ruangan besar. Gua ini relatif tidak terlalu gelap karena cahaya matahari bisa masuk melalui langit-langit gua. Di ruangan pertama, pasti pengunjung akan dihadapakan dengan bau yang sangat tidak sedap yang berasal dari kotoran kelelawar. Gua tersebut memang dipenuhi oleh kelelawar, namun hanya pada ruangan pertama.  Apabila kita berjalan terus ke sisi kiri, terdapat ruangan yang merupakan situs purbakala. Terdapat pula tengkorak manusia purba, namun dipagari sehingga pengunjung hanya dapat melihat, tanpa menyentuhnya. Kemudian, kami melanjutkan untuk turun ke bagian bawah sisi kiri gua dan menemukan “hotspot“. “Hotspot” ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk sesi foto, terutama ketika terdapat cahaya matahari yang menembus ruangan gua tersebut.

C360_2015-01-11-13-13-49-500

C360_2015-01-11-13-08-51-278

C360_2015-01-11-13-14-26-748

Jpeg

“Hotspot”

Setelah puas berfoto-foto ria, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi taman batu yang tepat berada di atas gua pawon. Pengunjung bisa melewati jalan setapak yang tepat di sebelah tempat parkir. Perjalanan kaki menuju puncak bukit kurang lebih 15 hingga 30 menit bergantung pada stamina masing-masing orang.

Jalan setapak menuju stone garden

Jalan setapak menuju taman batu

Setelah sampai puncak, terdapat tempat parkir kendaraan dan beberapa warung. Tempat parkir ini dapat diakses melalui jalur yang berbeda dan ditujukan bagi pengunjung yang ingin langsung ke taman batu.

Bagi para pengunjung taman batu diharuskan membayar 3000 rupiah

C360_2015-01-11-14-01-50-700

 Harga tiket masuk taman batu

Kemudian dilanjutkan berjalan ke taman batu sekitar 200 meter dan akhirnya melihat pemandangan yang sangat “wah”. Banyak spot yang dapat dijadikan tempat untuk sesi foto. Saking banyaknya, kami pun bingung ingin foto dimana. Mungkin beberapa foto di bawah ini bisa menggambarkan suasana disana.

C360_2015-01-11-14-17-31-851C360_2015-01-11-14-17-44-978C360_2015-01-11-14-25-16-680JpegJpegC360_2015-01-11-14-30-19-47820150111_143135

C360_2015-01-11-14-32-22-473Jpeg
Jpeg

Taman batu

Ada juga makam di bagian puncak taman batu dan dipagari.

C360_2015-01-11-14-45-26-755

Makam

Setelah puas dan waktu sudah menujukan pukul 15, kami pun memutuskan untuk pulang. Namun, perjalanan kaki menuju jalan besar tidak melalui jalan beton menuju gua pawon. Kami menggunakan jalan lainnya yang akhirnya tembus di Mesjid Al-Ikhlas, sebelah jalan besar. Disana ada petuntuk jalan untuk mencapai taman batu. Sumber: https://rhinochofathanoilham.wordpress.com/2015/01/15/pemandangan-alam-tersembunyi-gua-pawon-dan-stone-garden-padalarang/

0 komentar: